Baik BMW M3 dan M4 nyaris tak ada perbedaan performa saat dikendarai. Keduanya merupakan pengusung teknologi terkini BMW. Mesin 3.000 cc bertenaga 431 dk sangat impresif. Namun bukan hal itu yang membuat Auto Bild Indonesia terkesima. Masih banyak mobil merek yang yang bertenaga besar dan lebih kencang.
Ini karena para insinyur BMW di Munich, Jerman berhasil mengawinkan seluruh paket teknologi yang ada di mobil hingga mampu terkoneksi satu dengan yang lain secara harmonis. Mulai dari mesin, sistem suspensi, sistem pengereman, bodi, ban, kabin, sistem knalpot, sistem kemudi hingga menciptakan M3 terbaik sepanjang sejarah.
Jika Anda terbiasa menyetir BMW Seri 3 terbaru, mungkin perlu waktu sesaat untuk merasakan perbedaannya saat tombol start mesin diaktifkan. Deru suara knalpot menjadi penanda mobil ini bukan sekadar BMW kebanyakan. Posisi duduk di jok bucket pun sangat nyaman seakan memeluk kedua sisi paha dan punggung Anda.
Pengoperasian tuas transmisi otomatis dual clutch 7-speed juga tak jauh berbeda dari BMW lainnya, hanya model tuasnya saja yang terlihat lebih sporty dengan emblem M-Series yang gagah. Pun dengan panel instrumen dasbor dan sill plate dibubuhkan logo M-Series.
Ada beberapa setting bekendara yang dapat dipilih. Saat di mode Comfort, anyunan suspensi terasa lembut meski tak bisa dibilang empuk. Ciri sebuah mobil sport masih terdeteksi. Respons mesin saat pedal gas diinjak perlahan mampu meneruskan tenaga cukup spontan ke roda belakang. BMW M3 dan M4 merupakan mobil pertama BMW yang memakai as kopel berbahan serat karbon yang mampu meneruskan tenaga mesin lebih maksimal.
Saat menyusuri jalur jalan raya dari daerah Albufeira menuju Mertola, Portugal sejauh 291 km, Auto Bild Indonesia mencoba merasakan kenyamanan BMW M4 dipakai sebagai mobil sehari-hari. Untuk itulah mode Comfort dipilih dibanding Sport atau Sport+. Nyatanya, saat melaju di jalur dalam kota yang lengang, tenaga mesin tersalur cukup linier seirama dengan injakan kaki di pedal gas. Bahkan saat sesekali pedal gas ditekan mendadak saat melaju, tak ada gejala lonjakan tenaga tiba-tiba hingga membuat mobil sulit dikontrol. Kondisi ini membuat pengendaraan yang santai dan tak melelahkan.
Saat pedal gas dilepas dan kemudian diinjak lagi secara cukup tiba-tiba, lonjakan tenaga mesin juga masih bisa diprediksi. Tak sedikitpun terdeteksi gejala turbo lag khas mesin turbo. Michael Wimbeck, project leader BMW M3 dan M4, menjelaskan bahwa timnya memang memutar otak melakukan rekayasa aliran udara masuk dan buang di mesin sedemikian rupa hingga gejala turbo lag mampu direduksi seminim mungkin. Paling penting, rambatan tenaga terdistribusi merata di tiap putaran mesin. Mesin 6 silinder twin turbo di M3 dan M4 memiliki kenikmatan berkendara layaknya mesin tanpa turbo (naturally aspirated) yang mampu berkitir hingga putaran tinggi, namun punya keunggulan efisiensi BBM dan tenaga besar layaknya mesin turbo.
Kenikmatan berkendara masih ditambah dengan kemudi yang sangat presisi. Meski memakai electric power steering, namun sudah dilengkapi motor yang mampu bereaksi sangat cepat terhadap respons putaran lingkar kemudi. Mobil sangat mudah dikendalikan meski diajak meliuk di lalu lintas perkotaan yang padat.
0 komentar:
Posting Komentar